Pasar Bebas (Cina-FTA) Membunuh Petani
Mulai 2010 indonesia resmi melaksanakan Asean
Cina- Free Trade Area (AC-FTA). Perjanjian pasar bebas ini memiliki konsekuensi
tarif bea masuk 0% untuk produk Cina termasuk produk pertanian di dalamnya.
Semenjak itulah Indonesia kebanjiran produk pertanian dari Cina, yang paling
kentara adalah buah jeruk dan bawang putih. Dua komoditas yang menghidupi lebih
dari 100.000 rumah tangga petani Indonesia ini terancam mati.
Murahnya Jeruk dan Bawang putih dari Cina membuat
petani di Indonesia enggan menanam. Mereka lebih memilih berpindah ke
jenis tanaman yang lain seperti jagung, umbi-umbian atau sayuran. Situasi
ini seharusnya mendapat perhatian yang lebih serius dari pemerintah, sebab jika
dibiarkan, maka jeruk lokal seperti Jeruk Soe di NTT, Jeruk Medan, Jeruk Bali,
Bawang putih di Jawa Tengah, Medan, Jawa barat dan lainnya hanya tinggal nama.
perlu evaluasi dan renegosiasi ulang pelaksanaan
AC-FTA jika pemerintah benar-benar melindungi petani. Buruknya infrastruktur
pertanian, perubahan iklim, lemahnya SDM, buruknya teknologi pasca panen, dan
panjangnya mata rantai pertanian membuat produk pertanian Indonesia tidak akan
mampu bersaing dengan produk cina yang sangat kompetitif. Jangankan Indonesia,
Amerika saja kalah bersaing dengan produk cina.
Sebenarnya konstitusi Indonesia mengamanatkan
untuk melakukan kerjasama ekonomi, tetapi bukan model perdagangan bebas. Yang
harus dilakukan adalah kerjasama yang saling menguntungkan antar negara. Bukan
persaingan bebas yang akan mematikan satu dengan yang lainnya. Ibarat sebuah
pertandingan bola, sangat tidak mungkin Timnas Indonesia Menang melawan Timnas
Spanyol. Jelas perjanjian AC-FTA merupakan sesuatu yang sangat gegabah dan
konyol.
Mari kita belajar dari Cina, mereka berani
membuka pasar dan bersaing di Internasional setelah mereka membenahi
infrastruktur dan SDM. Disana beaya produksi untuk sebuah produk sangat murah.
Suku bunga kredit juga rendah sehingga memicu sektor riel untuk bergerak.
Industri nasional juga berjalan dengan baik. Sementara di Indonesia masih
jauh dari standar untuk melakukan kompetisi dengan produk negara-negara yang
sudah kuat.
Jika tidak menginginkan produk pertanian yang
lain bernasib sama dengan nasib petani jeruk dan bawang putih, maka pemerintah
harus menunda pasar bebas untuk pertanian terlebih dahulu. Baru setelah petani
kita kuat dibuka pasar bebas pun tidak akan menjadi masalah besar. Untuk
penguatan petani secara massif setidaknya dibutuhkan waktu minimal 10 tahun.
Tentu pemerintah harus berani mengambil langkah strategis, jika tidak maka
pertanian hanya tinggal masa lalu, anak-anak petani akan dirubah menjadi kuli
di negeri sendiri ataupun di negeri orang lain..
Mudah-mudahan pemerintah membaca hal ini,
mumpung ada momentum pertemuan Asean di jakarta 7-8 mei nanti, Bisakah Pak SBY
bersikap tegas untuk melindungi pertanian dari gempuran produk asing?
mari kita tunggu statement pemerintah….
Referensi :
http://politik.kompasiana.com/2011/04/15/pasar-bebas-cina-fta-membunuh-petani-356933.html
gagasan / pendapat / ide :
Dari paragraf diatas dapat saya
simpulkan bahwa dengan adanya perdagangan bebas antara negara-negara di ASEAN (Indonesia)
dengan cina (AC-FTA) bisa lebih
meninkatkan produktifitas dalam negeri, tetapi kenyataannya saat ini dengan
adanya perdagangan bebas malah menjadi momok bagi perekonomian itu sendiri. Seperti
contohnya petani bawang putih dan buah
jeruk. Kini para petani yang awalnya menanam kedua komoditi tersebut kini beralih
ke jenis tanaman yang lain, seperti jagung
, umbi-umbian dan sayuran. Hal ini disebabkan karena membanjirnya barang-barang
tersebut dari Cina dengan harga yang murah dan dengan kualitas yang bagus.
Sebenarnya
hal ini bisa diantisipasi dengan cara memperbaiki infrastruktur pertanian,seperti
memberikan teknologi pertanian yang lebih canggih. meningkatkan sumber daya
manusia (SDM) dengan cara memberikan pelatihan-pelatihan tentang cara mengenai
tata cara pertanian yang baik dan benar serta menghemat waktu, memperbaiki
teknologi pasca panen, dan memutus panjangnya mata rantai pertanian, serta
membatasi jumlah impor dari cina. sehingga produk impor hanya menjadi selingan disaat
harga komoditi yang diproduksi Indonesia sedang mengalami penurunan produksi,
jadi harga komoditi tersebut tidak mengalami kenaikan harga yang signifikan.
Di samping
itu masyarakat diharapkan bisa turun langsung untuk mengawasi dan melindungi
produk dalam negeri sehingga pada akhirnya perdagangan bebas ini akan lebih
meningkatkan produktifitas dalam negeri yang akan berdampak langsung pada
perekonomian dalam negeri.