Senin, 11 Maret 2013

Perdagangan bebas antara ASEAN (Indonesia) dengan cina


Pasar Bebas (Cina-FTA) Membunuh Petani
OPINI | 15 April 2011 | 21:12Description: http://stat.ks.kidsklik.com/statics/kompasiana4.0/images/ico_baca.gifDibaca: 172   Description: http://stat.ks.kidsklik.com/statics/kompasiana4.0/images/img_komen.gifKomentar: 6   Description: http://stat.ks.kidsklik.com/statics/kompasiana4.0/images/ico_nilai.gifNihil
Mulai 2010 indonesia resmi melaksanakan Asean Cina- Free Trade Area (AC-FTA). Perjanjian pasar bebas ini memiliki konsekuensi tarif bea masuk 0% untuk produk Cina termasuk produk pertanian di dalamnya. Semenjak itulah Indonesia kebanjiran produk pertanian dari Cina, yang paling kentara adalah buah jeruk dan bawang putih. Dua komoditas yang menghidupi lebih dari 100.000 rumah tangga petani Indonesia ini terancam mati.
Murahnya Jeruk dan Bawang putih dari Cina membuat petani di Indonesia enggan menanam.  Mereka lebih memilih berpindah ke jenis tanaman yang lain seperti jagung, umbi-umbian atau sayuran.  Situasi ini seharusnya mendapat perhatian yang lebih serius dari pemerintah, sebab jika dibiarkan, maka jeruk lokal seperti Jeruk Soe di NTT, Jeruk Medan, Jeruk Bali, Bawang putih di Jawa Tengah, Medan, Jawa barat dan lainnya hanya tinggal nama.
perlu evaluasi dan renegosiasi ulang pelaksanaan AC-FTA jika pemerintah benar-benar melindungi petani. Buruknya infrastruktur pertanian, perubahan iklim, lemahnya SDM, buruknya teknologi pasca panen, dan panjangnya mata rantai pertanian membuat produk pertanian Indonesia tidak akan mampu bersaing dengan produk cina yang sangat kompetitif. Jangankan Indonesia, Amerika saja kalah bersaing dengan produk cina.
Sebenarnya konstitusi Indonesia mengamanatkan untuk melakukan kerjasama ekonomi, tetapi bukan model perdagangan bebas. Yang harus dilakukan adalah kerjasama yang saling menguntungkan antar negara. Bukan persaingan bebas yang akan mematikan satu dengan yang lainnya. Ibarat sebuah pertandingan bola, sangat tidak mungkin Timnas Indonesia Menang melawan Timnas Spanyol. Jelas perjanjian AC-FTA merupakan sesuatu yang sangat gegabah dan konyol.
Mari kita belajar dari Cina, mereka berani membuka pasar dan bersaing di Internasional setelah mereka membenahi infrastruktur dan SDM. Disana beaya produksi untuk sebuah produk sangat murah. Suku bunga kredit juga rendah sehingga memicu sektor riel untuk bergerak. Industri nasional juga berjalan dengan baik.  Sementara di Indonesia masih jauh dari standar untuk melakukan kompetisi dengan produk negara-negara yang sudah kuat.
Jika tidak menginginkan produk pertanian yang lain bernasib sama dengan nasib petani jeruk dan bawang putih, maka pemerintah harus menunda pasar bebas untuk pertanian terlebih dahulu. Baru setelah petani kita kuat dibuka pasar bebas pun tidak akan menjadi masalah besar. Untuk penguatan petani secara massif setidaknya dibutuhkan waktu minimal 10 tahun. Tentu pemerintah harus berani mengambil langkah strategis, jika tidak maka pertanian hanya tinggal masa lalu, anak-anak petani akan dirubah menjadi kuli di negeri sendiri ataupun di negeri orang lain..
Mudah-mudahan pemerintah membaca hal ini, mumpung ada momentum pertemuan Asean di jakarta 7-8 mei nanti, Bisakah Pak SBY bersikap tegas untuk melindungi pertanian dari gempuran produk asing?
mari kita tunggu statement pemerintah….

Referensi :
http://politik.kompasiana.com/2011/04/15/pasar-bebas-cina-fta-membunuh-petani-356933.html

                gagasan / pendapat / ide :

                Dari paragraf diatas dapat saya simpulkan bahwa dengan adanya perdagangan bebas antara negara-negara di ASEAN (Indonesia) dengan cina  (AC-FTA) bisa lebih meninkatkan produktifitas dalam negeri, tetapi kenyataannya saat ini dengan adanya perdagangan bebas malah menjadi momok bagi perekonomian itu sendiri. Seperti contohnya petani  bawang putih dan buah jeruk. Kini para petani yang awalnya menanam kedua komoditi tersebut kini beralih ke jenis tanaman yang lain, seperti  jagung , umbi-umbian dan sayuran. Hal ini disebabkan karena membanjirnya barang-barang tersebut dari Cina dengan harga yang murah dan dengan kualitas yang bagus.
            Sebenarnya hal ini bisa diantisipasi dengan cara memperbaiki infrastruktur pertanian,seperti memberikan teknologi pertanian yang lebih canggih. meningkatkan sumber daya manusia (SDM) dengan cara memberikan pelatihan-pelatihan tentang cara mengenai tata cara pertanian yang baik dan benar serta menghemat waktu, memperbaiki teknologi pasca panen, dan memutus panjangnya mata rantai pertanian, serta membatasi jumlah impor dari cina. sehingga  produk impor hanya menjadi selingan disaat harga komoditi yang diproduksi Indonesia sedang mengalami penurunan produksi, jadi harga komoditi tersebut tidak mengalami kenaikan harga yang signifikan.
            Di samping itu masyarakat diharapkan bisa turun langsung untuk mengawasi dan melindungi produk dalam negeri sehingga pada akhirnya perdagangan bebas ini akan lebih meningkatkan produktifitas dalam negeri yang akan berdampak langsung pada perekonomian dalam negeri.